Ini rumah utama yang dinamakan Mbaru Gendang, tempat dilakukannya upacara penyambutan oleh tetua adat.

Saya masih ingat pagi itu, ketika pesawat yang saya tumpangi dari Jakarta mendarat di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo. Udara panas kota pesisir langsung menyambut, seolah memberi tanda bahwa petualangan panjang baru saja dimulai. Dari Labuan Bajo, perjalanan darat menanti. Mobil sewaan kami meluncur menuju Denge, desa terakhir yang bisa dicapai kendaraan sebelum menuju Waerebo.

Jalan berliku khas Flores dengan jurang di sisi kiri dan gunung hijau menjulang di kanan membuat saya terpukau sekaligus waswas. Tapi, di setiap tikungan, keindahan selalu hadir: hamparan laut biru, sawah bertingkat, dan langit yang begitu jernih. Butuh sekitar enam jam perjalanan hingga kami sampai di Denge. Malam itu kami menginap di rumah penduduk, mempersiapkan tenaga untuk pendakian esok hari.

Begitu tiba Denge, istirahat sejenak di rumah penduduk yang juga dijadikan basecamp

Menembus Kabut Hutan Menuju Desa di Punggung Gunung

Pagi buta, perjalanan sejati pun dimulai. Trek menuju Waerebo membelah hutan hujan tropis, jalur tanah yang kadang licin, diselingi suara burung dan desir angin. Sekitar 3–4 jam pendakian menanjak harus ditempuh, tergantung kekuatan kaki dan napas. Saya berjalan bersama beberapa pendaki lain, dan rasanya seperti rombongan kecil yang sedang menembus dunia lain. Kabut turun, udara makin dingin, dan di setiap langkah, rasa penasaran semakin membuncah.

Sepanjang jalan cuaca berubah-ubah, panas dan hujan. Pemandangan di sekitar yang menghibur kami.

Menjelang sampai di pintu masuk desa kurang lebih 500 meter, ada sebuah aturan adat yang harus dipatuhi: pemimpin rombongan harus terlebih dahulu membunyikan kentongan kayu yang tergantung di sebuah pondok kecil. Bunyi tok…tok…tok itu bukan sekadar isyarat kedatangan, tetapi sebuah permohonan izin kepada leluhur dan warga Waerebo agar kami diterima dengan baik. Suasana hening, hanya bunyi kentongan yang bergema di tengah kabut dan pepohonan basah. Ada sensasi sakral, seolah-olah suara kayu yang bergetar itu membuka gerbang menuju dunia lain.

Di pondok ini ketua kelompok wajib membunyikan kentongan, sementera Desa Waerebo ada di bawah sana, sekitar 500 meter lagi

Beberapa saat kemudian, kami melanjutkan langkah. Hati terasa lebih tenang, seakan doa-doa perjalanan kami sudah sampai kepada mereka yang tak terlihat. Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara ayam berkokok dan gonggongan anjing desa. Saat itu saya benar-benar merasa sedang mendekati sebuah perkampungan yang masih hidup dalam pelukan alam, terlindung dari hiruk pikuk dunia modern.

Dalam satu rumah adat tersebut bisa dihuni oleh sekitar 5 keluarga

Dan benar saja, ketika kabut mulai menyingkap, pemandangan yang menakjubkan terbentang di hadapan mata. Tujuh rumah kerucut dengan atap ijuk hitam pekat berdiri gagah di tengah lembah hijau. Di balik kesederhanaannya, tersimpan wibawa dan keanggunan. Rasanya seperti melihat sebuah miniatur kerajaan tua yang dijaga alam. Inilah Desa Waerebo, desa adat Suku Manggarai yang dijuluki “Negeri di Atas Awan.”

Adat Penyambutan: Menghormati Leluhur

Bersama tetua adat usai acara penyambutan

Upacara waelu bukan hanya formalitas, melainkan jembatan antara dunia nyata dengan dunia leluhur. Tamu yang datang dianggap sebagai keluarga jauh yang pulang, sehingga perlu dikenalkan terlebih dahulu kepada arwah nenek moyang yang menjaga desa. Dengan begitu, perjalanan dan kehadiran kita di Waerebo akan mendapat restu, serta dijauhkan dari gangguan dan kesialan. Tidak ada terjemahan praktis yang bisa menjelaskan sepenuhnya; ini adalah soal keyakinan, penghormatan, dan rasa syukur.

Saat ritual berlangsung, suasana begitu hening. Warga duduk melingkar di dalam Mbaru Gendang, aroma kayu bakar dan kopi hangat memenuhi udara, sementara doa-doa adat dilantunkan dalam bahasa Manggarai. Saya yang duduk di antara mereka, meski tidak memahami kata demi kata, bisa merasakan getaran spiritualnya. Ada rasa diterima, rasa dilindungi, dan rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.

Bersama bapak yang selalu tersenyum ramah, beliau berusia lebih dari 100 tahun dan yang tertua saat itu di desa Waerebo

Setelah itu, barulah senyum ramah warga menyambut lebih hangat. Mereka menyalami satu per satu tamu, seakan berkata: “Selamat datang di rumahmu yang kedua.” Sejak saat itu, setiap langkah di Waerebo bukan lagi perjalanan seorang pendatang, melainkan jejak seorang saudara yang kembali ke pangkuan keluarga leluhur.

Sejarah dan Kebanggaan Waerebo

Waerebo dipercaya berdiri lebih dari 100 tahun lalu, didirikan oleh leluhur yang bernama Empo Maro. Dari generasi ke generasi, desa ini mempertahankan bentuk rumah adatnya, Mbaru Niang, yang unik dan penuh filosofi. Setiap Mbaru Niang memiliki lima lantai dengan fungsi berbeda: lantai dasar untuk tempat tinggal, lantai atas untuk menyimpan benih, makanan, dan benda pusaka.

Ada 1 rumah yang dipakai untuk penginapan, muat untuk 50 orang dan kami tidur melingkar, sebelah kiri adalah tengah ruangan, itu adalah dapur yang digunakan untuk 5 keluarga. Biasanya, 1 rumah minimal terdiri dari 5 keluarga.

Keunikan inilah yang mengantarkan Waerebo meraih berbagai pengakuan internasional. Pada tahun 2012, desa ini mendapat UNESCO Asia-Pacific Award for Cultural Heritage Conservation berkat upaya melestarikan Mbaru Niang. Sejak itu, nama Waerebo mendunia, menjadi salah satu destinasi wisata budaya paling ikonik di Indonesia Timur.

Lebih dari sekadar penghargaan, pengakuan itu adalah simbol keberhasilan warga Waerebo dalam menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus modernisasi. Banyak desa adat lain di Indonesia yang sudah kehilangan bentuk aslinya, tetapi Waerebo tetap teguh berdiri, seolah menjadi museum hidup tentang bagaimana manusia, alam, dan tradisi bisa menyatu tanpa saling meniadakan.

Suasanan makan malam bersama dengan wisatawan lainnya

Prestasi ini juga membawa dampak besar bagi kesejahteraan warga. Wisatawan dari berbagai belahan dunia mulai berdatangan, tidak hanya untuk melihat arsitektur Mbaru Niang, tetapi juga untuk merasakan kehidupan yang tenang dan penuh kearifan di Waerebo. Pariwisata berbasis komunitas pun berkembang: warga menyediakan homestay, mengolah kopi arabika khas Waerebo, hingga memperkenalkan kain tenun tradisional yang sarat makna simbolis.

Di sisi lain, keberhasilan Waerebo menginspirasi banyak pihak, baik di Nusa Tenggara maupun daerah lain di Indonesia. Desa ini menjadi bukti bahwa melestarikan budaya tidak harus bertentangan dengan kemajuan, justru bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih berharga. Waerebo mengajarkan bahwa identitas adalah kekuatan, dan menjaga warisan leluhur adalah bentuk investasi yang tak ternilai bagi generasi berikutnya.

Kehidupan dan Kerajinan Warga

Hidup di Waerebo begitu sederhana. Warga menggantungkan hidup pada pertanian kopi, sayuran, dan hasil hutan. Kopi arabika Waerebo terkenal memiliki cita rasa khas: aroma floral dengan keasaman yang seimbang. Tak heran, banyak wisatawan pulang membawa biji kopi Waerebo sebagai buah tangan.

Proses pembuatan kopinya masih sangat sederhana

Selain itu, ibu-ibu Waerebo juga mahir menenun kain tradisional Manggarai dengan motif khas yang sarat makna. Setiap helai benang seakan menjadi cerita tentang alam, leluhur, dan kehidupan.

Senja di Negeri Awan

Ketika senja datang, kabut perlahan turun menyelimuti lembah, membuat Waerebo seakan melayang di antara awan. Duduk di depan Mbaru Niang sambil menyeruput kopi hangat, saya merasa berada di dunia yang berbeda—sunyi, sakral, tapi penuh kehangatan. Anak-anak berlarian, warga tersenyum ramah, dan bintang-bintang malam tampil begitu dekat.

Waerebo bukan hanya sebuah desa, melainkan pelajaran hidup.
Sebuah tempat yang membuat setiap orang yang datang merasa pulang.

Leave a comment

Quote of the week

"People ask me what I do in the winter when there's no baseball. I'll tell you what I do. I stare out the window and wait for spring."

~ Rogers Hornsby

Contact

Designed with WordPress

Design a site like this with WordPress.com
Get started